20
Apr
08

“SAWIT PENGRUSAK HUTAN BESAR-BESARAN”

Dulu ketiak kegiatan bidang perkayuan jaya-jayanya, hampir semua orang menuding bahwa ini telah melakukan pengrusakan kawasan hutan termasuk kegiatan penebangan oleh warga masayarakat yang dulu disebut “tebang banjir” dan atau yang terakhir disebut “tebang liar” dan kalah lagi gencarnya tudingan ditujukan kepada warga masyarakat tradisional yang sering melakukan perladangan berpindah.
Mereka ini dicap sebagai pelaku pengrusak hutan dan lingkunga pasalanya, jika kita buka kembali peta sistem tata usaha kayu tempo dulu itu, masih rada lebih baik ketimbang saat ini.
Dulu, sistem penebangan masih memakai Tebang Pilih Indonesia (TPI) kemudian Tabang Pilih Tanam Indonesia(TPTI), ada larangan penerbangan hutan anakan hingga diameter dibawah 20 cm.
HPH atau IPK diwajibkan membuat peta kerja, blok tebangan, laporan hasil cruising (LHC)yang sebelumnya telah dilakukan survey dan tebang pendahuluan sebelum ijin definitif keluar seperti ijin rencana kerja tahunan (RKT), rencana kerja lima tahunan (RKLT), dan rencana kerja dua puluh tahunan (RKD) semua ini harus dikantongi oleh para pemegang HPH sebagai sumber bahan baku bagi industri sawmill nya.
Semua persyaratan dan kewajibannya itu belumlah cukup, pengusaha masih diwajibkan membayar dana jaminan reboisasi (DJR), iuran hasil hutan (IHH), dan melakukan program bina desa atau comunitu development (CD) istilah saat ini.
Kegiatan ijin pemanfaatan kayu (IPK) ini tidak menjadi tren saat itu pasalnya, IPK itu bersifat insidentif atau sewaktuwaktu saja dan temponya pun tidak berlangsung terus menerus seperti dewasa ini. Sebab, IPK itu didapat bagi adanya pemanfaatan kayu yang diperuntukan karena adanya pembersihan lahan (land clearing) semisal membuka kawasan pemukiman transmigrasi, membuka akses jalan raya, perkebunan dan lainnya begitu selesai kegiatan tersebut, ya sudah selesai IPK itu. Lucunya saat ini, justru ijin IPK itu tidak jelas peruntukannya, sementara kebanyakan pembukaan lahan kebun sawit saat ini, potensi kayunya tidak dimanfaatkan dengan legalitas IPK, sehingga terkesan “mubazir.”
Banyak orang mengkalkulasi dan membanding-bandingkan dalam tinjauan ekologis atau melihat dari sisi pengrusakan kawasan hutan (Deporestasi). Kayanya industri kebun sawit ini justru yang paling disoroti dan dituduh sebagai pengrusak lahan dan kawasan yang berhutan, sebab terutama didaerah Kotawaringin Timur, vegetasi hutannya sangat beragam alias heterogen, dengan tingkat kesuburan tanah masih sangat baik, sehingga kawasan eks HPH sekalipun selama rentang waktu hingga saat ini, masih dapat ditumbuhi oleh hutan skunder, tiang pancang, semak belukar, dan akhirnya kemudian tumbuh besar dan rimbun kembali meskipun kayu-kayunya tidak lagi berpotensi ekonomis yang tinggi, tetapi dari sudut pandang lingkungan masih cukup dapat dibanggakan sebagai kawasan resap air dan penyangga.
Beda, dengan kawasan hutan sawit, kawasan ini ditumbuhi oleh hanya satu jenis tanaman (monokultur) yaitu sawit, sementara jenis vegetasi dan keragaman sangat minim sekali dan bahkan ada yang tidak ada lagi kawasan hutannya, “semuanya ditanam sawit.”


0 Responses to ““SAWIT PENGRUSAK HUTAN BESAR-BESARAN””



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: